
EDITORMEDAN.COM — Banjir yang melanda Kecamatan Medan Labuhan beberapa hari terakhir belum sepenuhnya surut. Akibatnya, sejumlah warga masih harus bertahan di lokasi pengungsian sementara di SD Negeri 060948, Kelurahan Pekan Labuhan, hingga hari ini, Selasa (14/10/2025).
Curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan utara Kota Medan sejak akhir pekan lalu menyebabkan meluapnya air dari drainase dan parit utama. Air yang tak kunjung surut membuat ratusan rumah warga terendam, bahkan sebagian di antaranya mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Kepala Lingkungan III, Abdul Manaf, mengatakan bahwa dari total 57 keluarga yang sempat mengungsi sejak dua hari lalu, kini masih ada tujuh keluarga yang bertahan di lokasi pengungsian. Warga tersebut berasal dari Lingkungan 3, 4, dan 5 Kelurahan Pekan Labuhan, yang merupakan daerah terparah terdampak banjir.
“Sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur dan perabot yang rusak, tetapi tujuh keluarga ini belum bisa pulang karena kondisi rumah mereka masih terendam,” ujar Abdul Manaf.
Menurutnya, genangan air di beberapa titik masih mencapai 30 hingga 50 sentimeter, terutama di daerah rendah yang berdekatan dengan aliran sungai. Warga khawatir air kembali naik karena cuaca di wilayah Medan masih berpotensi hujan setiap sore dan malam hari.
Bantuan logistik untuk para pengungsi sejauh ini masih mencukupi. Pemerintah kecamatan bersama BPBD Kota Medan telah menyalurkan bantuan berupa beras, mie instan, air mineral, dan obat-obatan dasar bagi warga terdampak.
Selain itu, sejumlah relawan juga ikut membantu menyediakan makanan siap saji dan perlengkapan anak-anak seperti popok dan susu. “Kami bersyukur masih ada perhatian dari banyak pihak. Meski seadanya, warga tetap bisa bertahan,” kata Abdul Manaf menambahkan.
Sementara itu, Camat Medan Labuhan, Andi Syahputra, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan ke lapangan untuk memastikan kondisi warga terdampak tetap aman. Tim gabungan dari BPBD, Dinas Sosial, dan PMI juga disiagakan untuk memberikan bantuan cepat jika kondisi memburuk.
“Fokus kami saat ini memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, sambil menunggu air benar-benar surut agar mereka bisa kembali ke rumah,” ujar Andi.
Ia juga menyebutkan bahwa banjir yang terjadi kali ini disebabkan kombinasi dari curah hujan ekstrem dan tersumbatnya saluran air di beberapa titik. Pemerintah kota berencana melakukan pengerukan saluran dan pembersihan drainase setelah air benar-benar surut.
Selain mengganggu aktivitas warga, banjir juga membuat sebagian ruas jalan di Kelurahan Pekan Labuhan sulit dilalui kendaraan. Beberapa sekolah di sekitar lokasi pun sempat menunda kegiatan belajar mengajar karena akses yang terputus.
Warga berharap agar pemerintah segera melakukan perbaikan infrastruktur drainase dan tanggul di sekitar kawasan tersebut. “Setiap hujan besar pasti banjir. Kami sudah lelah mengungsi setiap tahun,” keluh Siti Rahmah, salah satu pengungsi yang rumahnya masih terendam air setinggi lutut.
BPBD Kota Medan juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan. Berdasarkan prakiraan BMKG Wilayah I Medan, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah utara dan timur Kota Medan hingga akhir pekan.
Petugas gabungan juga disiagakan untuk membantu evakuasi bila debit air kembali meningkat. “Kami siap 24 jam untuk menangani laporan warga. Kami berharap kondisi ini segera membaik,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Medan, Ahmad Zuhri.
Meski sebagian warga sudah pulang, kondisi di lokasi pengungsian masih ramai. Anak-anak terlihat bermain di halaman sekolah sementara orang tua sibuk menjemur pakaian dan membersihkan peralatan rumah tangga yang basah.
Hingga berita ini diturunkan, banjir di sebagian besar wilayah Pekan Labuhan mulai menunjukkan tanda-tanda surut, namun warga tetap diminta siaga menghadapi kemungkinan hujan lebat susulan yang bisa memperparah kondisi banjir.
