Tragedi Keluarga di Medan Jadi Peringatan Pentingnya Pendidikan Parenting Sejak Dini

Tragedi Keluarga di Medan Jadi Peringatan Pentingnya Pendidikan Parenting Sejak Dini EDITORMEDAN.COM

EDITORMEDAN.COM – Kasus tragedi keluarga yang terjadi di Kota Medan mengguncang perhatian publik nasional. Peristiwa ini melibatkan seorang siswi sekolah dasar yang diduga menghilangkan nyawa ibu kandungnya sendiri. Kejadian tersebut membuka tabir persoalan serius dalam relasi keluarga. Banyak pihak menilai kasus ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Tragedi ini menjadi refleksi mendalam tentang pentingnya pola asuh yang sehat.

Siswi kelas VI SD berinisial SAS alias Al, berusia 12 tahun, diduga menjadi pelaku dalam peristiwa memilukan tersebut. Korban diketahui bernama Faizah Soraya, berusia 42 tahun. Hubungan ibu dan anak yang seharusnya dilandasi kasih sayang justru berujung tragedi. Fakta-fakta yang terungkap menunjukkan adanya konflik berkepanjangan di dalam rumah. Kondisi ini memperlihatkan rapuhnya keharmonisan keluarga.

Berdasarkan keterangan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, motif peristiwa ini bukan emosi sesaat. Ada akumulasi rasa sakit hati yang dipendam dalam waktu lama. Anak tersebut mengaku mengalami ketidaknyamanan psikologis di rumah. Lingkungan keluarga dinilai tidak memberikan rasa aman. Situasi ini memperparah kondisi emosional anak.

Diyah mengungkapkan bahwa informasi tersebut diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Medan. Dalam proses pendampingan, anak tersebut menyampaikan curahan hatinya. Ia mengaku sering menyaksikan ibunya bersikap temperamental. Perlakuan tersebut terutama diarahkan kepada kakaknya. Hal itu menimbulkan tekanan emosional yang berat.

Anak tersebut merasa terpanggil untuk membela ayah dan kakaknya. Rasa empati yang tidak tersalurkan dengan baik berubah menjadi kemarahan. Dalam kondisi kejiwaan yang belum matang, emosi tersebut berkembang menjadi dendam. Tidak adanya ruang komunikasi yang sehat memperburuk situasi. Akhirnya, konflik batin itu berujung pada tindakan tragis.

Kasus ini menunjukkan betapa besar dampak kekerasan verbal dan emosional dalam keluarga. Kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Nada bicara kasar, kemarahan berlebihan, dan sikap merendahkan dapat melukai psikologis anak. Luka batin yang terus menumpuk dapat memicu perilaku ekstrem. Anak menjadi korban sekaligus pelaku dalam situasi ini.

Para ahli menilai bahwa anak usia sekolah dasar masih berada dalam tahap perkembangan emosional. Mereka belum mampu mengelola konflik secara rasional. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter. Ketika rumah tidak menjadi tempat yang aman, anak akan mencari pelampiasan emosinya. Hal ini menjadi peringatan serius bagi orang tua.

Tragedi ini juga menyoroti pentingnya ilmu berumah tangga dan parenting. Banyak orang tua menjalani pernikahan tanpa bekal pengetahuan pengasuhan. Pola asuh sering diwariskan secara turun-temurun tanpa evaluasi. Padahal, setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda. Pendidikan parenting menjadi kebutuhan mendesak.

KPAI menegaskan bahwa pengasuhan anak harus berbasis kasih sayang dan komunikasi. Orang tua perlu memahami kondisi psikologis anak. Kemarahan yang tidak terkendali dapat berdampak jangka panjang. Anak membutuhkan teladan, bukan tekanan. Keluarga seharusnya menjadi ruang tumbuh yang sehat.

Kasus ini juga menjadi alarm bagi sistem perlindungan anak. Deteksi dini terhadap konflik keluarga perlu diperkuat. Lingkungan sekolah dan masyarakat harus peka terhadap perubahan perilaku anak. Anak yang sering murung atau agresif perlu mendapat perhatian khusus. Intervensi dini dapat mencegah tragedi serupa.

Pemerintah daerah diharapkan memperkuat layanan konseling keluarga. Akses terhadap pendampingan psikologis harus diperluas. Program edukasi parenting perlu digencarkan hingga tingkat kelurahan. Pendekatan preventif dinilai lebih efektif daripada penanganan setelah kejadian. Sinergi lintas sektor menjadi kunci.

Selain itu, peran ayah dan ibu harus seimbang dalam pengasuhan. Beban emosional anak tidak boleh diabaikan. Anak perlu merasa didengar dan dipahami. Komunikasi dua arah harus dibangun sejak dini. Hal sederhana dapat berdampak besar bagi kesehatan mental anak.

Tragedi di Medan ini juga memunculkan keprihatinan mendalam masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa kasus ini merupakan kegagalan kolektif. Tidak hanya keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar. Kepedulian sosial menjadi aspek penting dalam perlindungan anak. Anak tidak boleh dibiarkan memendam luka sendirian.

Dalam perspektif hukum, anak tetap diperlakukan sebagai anak yang berhadapan dengan hukum. Pendekatan keadilan restoratif menjadi prioritas. Pemulihan psikologis anak harus diutamakan. Proses hukum harus mempertimbangkan aspek perlindungan anak. Negara wajib hadir secara manusiawi.

KPAI menekankan bahwa anak tersebut juga merupakan korban. Korban dari pola asuh yang tidak sehat. Korban dari lingkungan emosional yang penuh tekanan. Oleh karena itu, penanganan harus komprehensif. Fokus pada pemulihan, bukan sekadar penghukuman.

Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Keluarga adalah fondasi utama pembentukan karakter anak. Ketika fondasi rapuh, dampaknya bisa sangat fatal. Pendidikan emosional dalam keluarga tidak boleh diabaikan. Setiap orang tua memiliki tanggung jawab besar.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak menghakimi secara berlebihan. Stigma hanya akan memperburuk kondisi psikologis anak. Pendekatan empati lebih dibutuhkan. Tragedi ini harus dilihat sebagai momentum evaluasi bersama. Bukan sekadar sensasi pemberitaan.

Penting bagi orang tua untuk terus belajar dan berbenah. Mengasuh anak bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik. Kebutuhan emosional dan psikologis sama pentingnya. Anak membutuhkan cinta yang konsisten. Bukan kemarahan yang berulang.

Dengan meningkatnya kasus kekerasan dalam keluarga, edukasi parenting harus menjadi prioritas nasional. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat harus berjalan seiring. Anak adalah masa depan bangsa. Melindungi mereka adalah tanggung jawab bersama. Tragedi ini semoga menjadi yang terakhir.

Kasus di Medan ini meninggalkan luka mendalam bagi banyak pihak. Namun, dari tragedi lahir pelajaran penting. Bahwa kasih sayang, komunikasi, dan pengasuhan yang sehat adalah kunci utama. Tanpa itu, rumah bisa menjadi tempat paling berbahaya bagi anak. Semoga semua pihak dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *