
EDITORMEDAN.COM — Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution kembali menunjukkan komitmennya terhadap pengelolaan lingkungan hidup, khususnya dalam penanganan masalah sampah di wilayah perkotaan. Langkah strategis itu diwujudkan melalui penandatanganan Kesepakatan Bersama Pemanfaatan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) bersama Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas dan Bupati Deliserdang Asri Ludin Tambunan, di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro No. 30, Medan, Kamis (6/11/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Bobby Nasution menegaskan bahwa persoalan sampah bukan hanya masalah kebersihan, melainkan juga mencerminkan tata kelola kota yang baik. Menurutnya, program PSEL merupakan langkah besar untuk menjadikan sampah sebagai sumber daya yang bermanfaat.
“Ini persoalan yang sudah lama dan merupakan salah satu concern Pak Presiden terkait tata kota, termasuk masalah sampah. Kita harus benar-benar serius menanganinya,” ujar Bobby.
Ia menambahkan, Sumatera Utara berpotensi menjadi contoh nasional dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. Dengan sistem modern, sampah yang menumpuk dapat diolah menjadi energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Selama ini kita melihat sampah sebagai masalah, padahal kalau dikelola dengan benar, bisa menjadi solusi energi,” tambahnya.
Penandatanganan kesepakatan ini menjadi momentum penting bagi Pemerintah Provinsi Sumut untuk mempercepat penerapan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah. Proyek PSEL sendiri merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang didorong langsung oleh pemerintah pusat.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, mengapresiasi langkah kolaboratif ini. Ia menyebutkan bahwa Kota Medan selama ini menjadi pusat timbunan sampah terbesar di Sumut, dengan volume mencapai ribuan ton setiap hari.
“Dengan adanya program ini, kita tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga menciptakan sumber energi baru yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” kata Rico.
Sementara itu, Bupati Deliserdang Asri Ludin Tambunan menilai kerja sama lintas daerah ini sebagai bukti nyata sinergi pemerintah daerah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
“Kami di Deliserdang mendukung penuh inisiatif ini. Apalagi sebagian besar timbunan sampah dari Medan juga bermuara ke wilayah kami,” ujarnya.
Proyek PSEL di Sumut nantinya akan menggunakan sistem waste-to-energy, di mana sampah padat diolah menjadi energi listrik melalui proses termal. Teknologi ini sudah terbukti efektif di beberapa kota besar dunia seperti Tokyo dan Singapura.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumut, Hendri Simanjuntak, menjelaskan bahwa proyek PSEL akan dimulai dengan tahap pembangunan infrastruktur pengolahan sampah dan jaringan distribusi listrik.
“Pembangunan tahap pertama akan difokuskan di kawasan TPA Terjun dan sekitarnya. Targetnya, tahun 2026 sudah bisa beroperasi,” ungkap Hendri.
Selain itu, proyek ini juga akan melibatkan sektor swasta melalui skema investasi jangka panjang. Pemerintah berharap langkah ini dapat mengurangi beban APBD dan mempercepat implementasi teknologi hijau.
“Investor sudah ada yang menunjukkan minat. Ini pertanda baik, karena artinya dunia usaha juga mulai sadar akan pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan,” jelasnya.
Bobby Nasution berharap proyek PSEL bukan hanya menjadi simbol pembangunan, tetapi juga menjadi bukti nyata perubahan gaya hidup masyarakat terhadap sampah. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat adalah kunci keberhasilan program ini.
“Kita bisa punya teknologi secanggih apa pun, tapi kalau kesadaran masyarakat belum berubah, masalah sampah akan tetap ada,” tegasnya.
Untuk itu, Pemprov Sumut berencana meluncurkan kampanye edukasi publik bertajuk “Sampah Jadi Energi, Energi untuk Kehidupan” guna meningkatkan kesadaran warga agar memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
“Dengan edukasi dan partisipasi masyarakat, kita ingin Sumatera Utara menjadi provinsi yang bersih, hijau, dan mandiri energi,” kata Bobby.
Banyak pihak menyambut baik inisiatif ini, termasuk kalangan akademisi dan aktivis lingkungan. Mereka menilai program PSEL dapat menjadi terobosan dalam mengatasi krisis sampah perkotaan yang semakin kompleks.
“Kalau berhasil, proyek ini bisa menjadi model nasional dan mendorong daerah lain meniru langkah Sumatera Utara,” ujar Prof. Syaiful Nasution, pakar lingkungan dari Universitas Sumatera Utara (USU).
Dengan kerja sama lintas daerah dan dukungan masyarakat, Bobby Nasution optimistis Sumatera Utara akan mampu keluar dari persoalan klasik sampah perkotaan. Lebih dari itu, ia ingin menjadikan Sumut sebagai provinsi percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis energi bersih.
“Ini bukan hanya soal kebersihan kota, tapi soal masa depan energi kita. Sampah bisa jadi sumber daya, bukan sekadar beban,” tutup Bobby Nasution penuh keyakinan.
